Thursday, 20 November 2014

film horor terseram dan terpopuler

.   

1.Annabelle


Annabelle adalah spin-off dari The Conjuring, film horor yang sempat booming di akhir 2013 lalu. Seperti dikisahkan dalam The Conjuring, Annabelle adalah salah satu boneka yang legendaris karena pernah kerasukan setan. Film Annabelle ini dibintangi oleh Ward Horton, Annabelle Wallis, dan Alfre Woodard.
Direktur utama film Annabelle adalah John R. Leonetti, yang juga memproduksi The Conjuring.
Dalam film Annabelle, boneka ini menjadi fokus utama sang sutradara, James Wan, yang juga menyutradarai The Conjuring. Kisah dimulai dari sepasang suami istri yang hobi mengoleksi benda antik, yang bernama Mia dan John. John yang tahu betul bahwa si istri sangat mendambakan boneka antik berjuluk Annabelle, menghadiahkannya pada sang istri yang sedang hamil. Tak dinyana, boneka ini membawa sejarah kelam pada keluarga kecil yang bahagia ini. Mulanya, Mia mendengar suara aneh dari tetangganya. Ia pun menyuruh sang suami melihat apa yang terjadi di rumah tetangganya.
Saat itulah, mendadak tetangga Mia telah berada di rumahnya dengan boneka Annabelle di samping Mia. Terjadilah pembunuhan sadis yang menewaskan sang tetangga. Akibat peristiwa mengerikan ini, Mia dan John memutuskan pindah ke rumah yang baru.
Lagi-lagi, peristiwa aneh terjadi. Annabelle ada dalam salah satu kotak yang dikemas ke rumah baru Mia dan John! Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini memang membangkitkan animo para pecinta film. Meskipun banyak yang kecewa dengan alur cerita Annabelle yang mudah ditebak, tetap saja banyak pengunjung yang sangat menantikan kehadiran film iniFilm Annabele sendiri didasarkan pada kisah boneka Annabelle yang dimiliki seorang mahasiswa bernama Donna. Donna yang tinggal bersama teman kosnya, Lou dan Angie, membeli boneka ini dari toko antik pada tahun 1970. Seiring berjalannya waktu, boneka ini terus meneror mereka lantaran ada arwah seorang bocah perempuan bernama Annabelle yang menempati boneka tersebut.
 
 
2. The Conjuring


Plot:
Diangkat dari kisah nyata. Dua demonologist harus mencari cara untuk mengusir iblis yang mengganggu dan mengancam keselamatan suatu keluarga.

Review:
"Ga mau, ga mau!" teriak gadis remaja dengan nada manja sebelum film ini dimulai. "Kalo ga mau, ya, keluar. Siapa yang maksa," ingin gue membalas. The Conjuring adalah sebuah film horror yang memiliki ke-hype-an tersendiri belakangan ini. Sudah dua kali gue menonton film ini dan bioskopnya selalu selalu penuh. Belum lama ini gue ngobrol dengan teman gue dan mereka selalu me-refer pada film ini. "Awas nyet jangan kesana, nanti conjuring," kurang lebih seperti itu ketika salah satu teman gue hendak berjalan ke lorong gelap. Lalu ada apa dengan film ini? Apa sebenernya penyebab ke-hype-an ini?

The Conjuring adalah hasil garapan sutradara Australia kelahiran Malaysia bernama James Wan (Insidious, 2011). Mirip dengan Insidious, The Conjuring menceritakan sebuah keluarga yang baru saja pindah ke rumah baru. Hanya saja tanpa mereka ketahui ada sesuatu yang janggal di rumah baru mereka. Perbedaan diantara keduanya adalah di film ini tokoh utamanya bukanlah keluarga yang dihantui, melainkan para pengusir hantunya. Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga) adalah sepasang suami-istri yang berprofesi sebagai demonologist. Pada tahun 1960-an dan 1970-an, the Warrens, sebutan mereka, merupakan demonologist yang terkenal. Beberapa kasus kerasukan atau gangguan evil entity mereka tangani, termasuk kasus Amityville Horror yang tersohor itu. Kisah yang diangkat di film ini adalah kasus yang dialami oleh keluarga Perron, yang mengalami gangguan di rumah barunya di Rhode Island. Kisah yang diangkat di film ini adalah pengalaman the Warrens yang katanya begitu malevolent sehingga baru diungkap belakangan ini.

Carolyn (Lily Taylor) dan Roger Perron (Ron Livingstone) baru saja pindah ke rumah pedesaan impian mereka di Rhode Island bersama lima putrinya, yaitu Andrea (Shanley Caswell), Nancy (Hayley McFarland), Christine (Joey King), Cindy (Mackenzie Foy), dan April (Kyla Deaver). Rumah yang mereka dapatkan dari lelang bank tersebut sedikit-sedikit mulai menampakkan kengeriannya. Dimulai dari ditemukannya ruang bawah tanah yang nampaknya disembunyikan oleh pemilik sebelumnya, kematian anjing peliharaan mereka, berhentinya semua jam tepat pada pukul 3:07, munculnya teman khayalan April yang bernama Rory, dan lain sebagainya. Perlahan namun pasti keluarga Perron merasa terancam. Gangguan yang awalnya tidak begitu terasa berubah menjadi sesuatu yang nyata. Hal ini membuat keluarga Perron ketakutan dan akhirnya meminta bantuan kepada the Warrens.

Menilai sebuah film horror menurut gue adalah proses yang gampang gampang susah. Gampang ketika kita menilai dari segi keseramannya saja. Namun sesungguhnya sebagai film horror, layaknya film lain, dapat dinilai dari unsur lain di luar segi keseramannya, seperti penggarapannya, akting, tata suara, ambience atau atmosfir yang diciptakan, dan lain-lain. The Conjuring di sini, menurut gue, merupakan film horror yang selain seram juga digarap secara apik. Dari tata kamera dan tata suaranya saja sudah kita dapat nilai bahwa film ini tidak main-main. Bukan film horror ecek-ecek ibarat kata. Penggunaan teknik moving camera pada beberapa pergantian scene dan adanya zoom in zoom out yang (katanya) umum digunakan pada era 70-an diterapkan secara sesuai di film ini. Alhasil, selain memanjakan mata, teknik yang digunakan mampu menambah kadar kengerian yang diciptakan. Apalagi ketika itu semua diterapkan dalam long take scene sehingga membuat intensitas scene tersebut berlipat ganda. Dari ingatan gue, tata suara yang digunakan di film ini hampir mirip dengan yang Wan pakai di Insidious, masih hasil karya Joseph Bishara. Masih menggelegar dengan suara-suara tidak mengenakkan hati, hal ini bisa membuat jantung kita berdebar dan akhirnya membuat paranoid sendiri.

Pembukaan film ini adalah salah satu pembukaan film horror termenarik yang gue lihat belakangan ini. Belum apa-apa, begitu film ini dimulai, kita disuguhkan dengan wajah boneka ventriloquist yang tentunya menyeramkan. Bagi yang unprepared, banyak yang sudah teriak terkejut. Boneka seram itu bukan sembarang boneka. Itu merupakan boneka Annabelle yang gue sempat cari ceritanya dan ternyata tidak kalah seram dengan kisah keluarga Perron. Hal ini sesungguhnya mirip dengan film Wan terdahulu yang berjudul Dead Silence (2007). Kayaknya emang Wan seneng banget nih bikin film yang ada boneka seremnya. Sial, rumah gue banyak bonekanya. Kemudian bagian pembukaan ini ditutup dengan title card dengan tulisan warna kuning luar biasa besar ditambah dengan suara-suara yang tidak kalah besarnya. Hasilnya pembukaan ini bisa dibilang menyeramkan dan bahkan menjadi highlight film ini. Ibaratnya ini adalah pemanasan sesuai untuk menyambut parade kengerian yang siap menyambut kita di film ini.

Cerita haunted house memang terbilang usang di kalangan film-film horror. Namun cerita yang ditulis oleh Chad dan Carey Hayes digarap secara baik sehingga membuat The Conjuring masih menarik untuk dinikmati ceritanya. Hal menarik di film ini adalah adanya unsur religi yang diangkat. Gue jadi teringat pada film The Exorcist (William Friedkin, 1973) apalagi ketika melihat bagian pengusiran hantu di bagian akhir film ini. Meski tidak seseram The Exorcist, bagian pengusiran hantu di film ini masih terbilang intense. Unsur religi yang gue maksud tadi adalah, secara tersirat dan tersurat, film ini mencoba mengingatkan kita bahwa adanya higher power di atas manusia. Sebagai contoh adalah ucapan Ed di akhir film yang kurang lebih seperti ini: The devil exists. God exists. And for us, as people, our very destiny hinges on which we decide to follow. Dari segi cerita film ini diceritakan secara jelas. Segi mengapa bisa ada ini dan mengapa bisa begitu sesungguhnya telah dijelaskan secara sistematis sehingga kita sebagai penonton tidak perlu repot-repot lagi berpikir, tugas kita hanyalah menikmati (menikmati adalah pilihan kata yang menarik) teror yang ada di film ini. Kemudian sebagai penutup, The Conjuring sangat beruntung memiliki Vera Farmiga. Performanya sangat menawan sehingga merupakan poin tambah film ini.

Jadinya?
Malevolent. The Conjuring adalah film horror yang selain seram juga digarap secara rapi. Meski mengangkat kisah haunted house yang telah usang, film ini tidak kehilangan keseramannya. Unsur religi yang diangkat di film ini menjadi sesuatu yang menarik. Hal ini mampu membuat film ini menjadi sederhana yang pada akhirnya membuat kengerian film ini terasa nyata.
 
   
3.insideous

Pada awalnya Keluarga Lambert yang baru pindah ke rumah baru mereka akan tetapi semenjak tinggal di rumah baru itu mereka sering diganggu oleh hal-hal aneh.Renai Lambert (Rose Bryne) akhirnya menceritakan semua hal-hal aneh yang dialaminya itu ke suaminya, Josh Lambert (Patrick Wilson). Meski awalnya Josh tidak percaya, begitu ia mengalami kejadian aneh itu sendiri, ia akhirnya percaya. Anak pertama mereka, Dalton Lambert (Ty Simpkins) bermain-main didalam rumah dan ia penasaran untuk masuk kedalam gudang yang ada didalam rumahnya, lalu Dalton mencoba menyalakan lampu gudang itu dengan menaiki tangga kemudian Dalton pun terjatuh dari tangga dan sepertinya ia melihat sesuatu yang membuat ia berteriak sampai-sampai membuat kedua orang tuanya panik. Begitu tahu Dalton hanya sakit biasa karena terjatuh mereka langsung membawa Dalton ke kamarnya agar Dalton beristirahat. Esok paginya, ayah Dalton, Josh hendak membangunkan Dalton anaknya untuk berangkat sekolah, namun Dalton tidak bangun-bangun. Mereka pun membawa Dalton ke rumah sakit. Dan dokter mendiagnosis, Dalton mengalami koma, namun setelah di tes, kondisi tubuh Dalton malah dalam keadaan yang normal. Ini yang membuat mereka bingung. Setelah 3 bulan Dalton tidak terbangun dari komanya dan mulai banyak kejadian aneh yang terjadi, dan akhirnya mereka memutuskan untuk pindah rumah karena mereka merasa rumah baru mereka itu berhantu.


Setelah pindah rumah ternyata kejadian-kejadian aneh masih tetap saja terjadi. Akhirnya ibu Josh, Lorraine Lambert (Barbara Hershey) menyarankan Josh dan Renai untuk mengundang Elise Rainer (Lin Shaye) karena dia orang yang ahli untuk masalah seperti ini.

Awalnya, Elise tidak langsung bertindak begitu saja. Ia memerintahkan Tucker (Angus Sampson) dan Specs (Leigh Whannell) untuk mengecek dahulu apa yang ada didalam rumah tersebut dengan menggunakan peralatan rancangan mereka sendiri. Setelah mengetahui ada mahluk gaib di rumah itu. Elise pun mulai bertindak. Dan disinilah adegan paling menegangkan terjadi di film ini. Elise mencoba mencari Dalton yang tersesat didunia lain yang disebut further yaitu dunia dmana disitu ditempati oleh arwah-arwah penasaran, namun ternyata Elise gagal karena ada iblis jahat yang mengganggunya. Dan satu-satunya orang yang bisa mengembalikan roh Dalton ke dalam tubuhnya hanyalah Josh yang ternyata juga memiliki kemampuan melepaskan diri dari tubuhnya dan masuk ke alam lain. Dan kemudian Josh pun dapat melepaskan diri dari tubuhnya dan masuk kedunia further dimana anaknya Dalton disekap oleh iblis yang ingin mengambil tubuh Dalton, setelah mencari Josh pun menemukan Dalton dan langsung kembali kerumahnya dengan susah payah.

Itulah sepenggal cerita dari film “INSIDIOUS”. Film “INSIDIOUS” ini benar-benar film yang menegangkan, ditambah dengan efek sound yang bisa bikin bulu kuduk berdiri, alur ceritanya juga menarik, dan dandanan para hantunya yang ala tahun 70an juga bener-bener bikin mata merem melek ngeliyatnya, apalagi hantu nenek-nenek yang memakai gaun, haduh klo inget tuch hantu nenek-nenek jadi enggak berani ke WC sendirian. Film ini patut ditonton untuk para penggemar film horror coz film bener-bener film horror beneran, tidak seperti film horror Indonesia yang  sudah kayak kentucki fried chicken yang paha dada paha dada, benar-benar merusak moral bangsa. huft…mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan
      
4.Paranormal Activity


Paranormal Activity adalah film horor independen Amerika Serikat tahun 2007 yang ditulis dan disutradarai oleh Oren Peli.[5] Film ini tampil di Screamfest Film Festival, Amerika Serikat, pada 14 Oktober 2007, dan juga ditayangkan di Slamdance Film Festival pada 18 Januari 2008.
Film ini berkisah mengenai pasangan muda, Katie dan Micah, yang dihantui oleh kekuatan supranatural di rumah mereka. Film ini menggunakan genre "found footage" dari kamera yang mereka pasang untuk mengetahui apa yang menghantui mereka. Film ini merupakan film paling menguntungkan yang pernah dibuat berdasarkan return on
sekian ulasan dari saya semoga bermangfaat.




Posted by kolodit firmansyah
kolodit Updated at: 11:29